Tampilkan postingan dengan label FILSAFAT ILMU. Tampilkan semua postingan
Nama : Mokhamad Khaidar Effendi (7311040)
1.Smart beautiful mind adalah sebuah pemikiran yang bagus atau indah dan kreatif,yang menurut saya wajib dimiliki oleh setiap orang,disini yang dimaksud pemikiran yang bagus atau indah adalah cara pandang atau berpikir kreatif kita mengenai hal-hal yang belum pernah terpikir oleh seseorang untuk melakukan sebuah inovasi terbaru.dan itu mungkin sangatlah mudah bagi seseorang yang terbiasa berpikir smart beautiful mind.Orang yang memiliki pemikiran smart beautiful mind tidak akan kekurang ide untuk menciptakan hal-hal yang kreatif dan menarik.
2.Penemu laptop.
High value;
Ide pembuatan komputer portable ini sebenarnya sudah digagas pada tahun 1970-an. Gagasan tersebut pertama kali dicetuskan oleh Alan Kay. Beliau adalah seorang ilmuwan komputer dari Amerika dan lahir pada 17 Mei 1940. Alan Kay sudah mengagas komputer portable ini sebelum orang lain membayangkannya. Dan ide dari Alan ini disambut oleh Adam Osborne. Beliau adalah publisher software dan bekerja di sebuah penerbitan buku di Amerika, lahir paa 6 Maret 1939 di Bangkok dan meninggal pada 18 Maret 2003 di Kodaikanal, India.
Market oriented;
Laptop ini pertama kali dijual dengan harga 16 juta rupiah ....Osborne 1(nama laptop pertama kali) menggunakan sambungan listrik dengan baterai cadangan opsional, serta menggunakan dua floppy drive ukuran 5 ¼ inchi, modem port, keyboard, baterai pack. Namun untuk performa, saya rasa tidak dapat diandalkan, karena mengingat disaat itu teknologi belum maju seperti sekarang ini. Diluar semua itu, Osborne 1 tetaplah sebuah ide yang maju dijamannya.
Divergent growth;Awal dari penemuan laptop terus dikembangkan hingga sekarang .
1.Smart beautiful mind adalah sebuah pemikiran yang bagus atau indah dan kreatif,yang menurut saya wajib dimiliki oleh setiap orang,disini yang dimaksud pemikiran yang bagus atau indah adalah cara pandang atau berpikir kreatif kita mengenai hal-hal yang belum pernah terpikir oleh seseorang untuk melakukan sebuah inovasi terbaru.dan itu mungkin sangatlah mudah bagi seseorang yang terbiasa berpikir smart beautiful mind.Orang yang memiliki pemikiran smart beautiful mind tidak akan kekurang ide untuk menciptakan hal-hal yang kreatif dan menarik.
2.Penemu laptop.
High value;
Ide pembuatan komputer portable ini sebenarnya sudah digagas pada tahun 1970-an. Gagasan tersebut pertama kali dicetuskan oleh Alan Kay. Beliau adalah seorang ilmuwan komputer dari Amerika dan lahir pada 17 Mei 1940. Alan Kay sudah mengagas komputer portable ini sebelum orang lain membayangkannya. Dan ide dari Alan ini disambut oleh Adam Osborne. Beliau adalah publisher software dan bekerja di sebuah penerbitan buku di Amerika, lahir paa 6 Maret 1939 di Bangkok dan meninggal pada 18 Maret 2003 di Kodaikanal, India.
Market oriented;
Laptop ini pertama kali dijual dengan harga 16 juta rupiah ....Osborne 1(nama laptop pertama kali) menggunakan sambungan listrik dengan baterai cadangan opsional, serta menggunakan dua floppy drive ukuran 5 ¼ inchi, modem port, keyboard, baterai pack. Namun untuk performa, saya rasa tidak dapat diandalkan, karena mengingat disaat itu teknologi belum maju seperti sekarang ini. Diluar semua itu, Osborne 1 tetaplah sebuah ide yang maju dijamannya.
Divergent growth;Awal dari penemuan laptop terus dikembangkan hingga sekarang .
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Setelah berbagai sumber yang penulis dapatkan tentang pengertian tahu , pengetahuan dan ilmu pengetahuan baik yang tertulis maupun yang terucap agak sulit untuk dipahami oleh banyak orang, maka penulis mencoba pula mengungkapkan pengertian tahu, pengetahuan dan ilmu pengetahuan dari perspektif lain, sehingga memudahkan banyak orang untuk memahaminyan. Disamping itu juga terdapat landasan yang kuat untuk membangun kerangka berfikir.
Setiap orang banyak tahu tentang sesuatu yang ada di alam raya ini. Hal-hal yang berkaitan dengan objek yang diketahui tersebut dinamakan pengetahuan. Hal-hal yang berkaitan dengan objek tersebut antara lain bentuk, ukuran, warna, sifat-sifat dan juga kwalitas. Disamping itu juga erat kaitanya dengan situasi atau kondisi objek yang diketahui, termasuk juga peran, fungsi-fungsi dan lain-lain. Semuanya itu juga dibedakan dengan pemberian nama
1.2 Rumusan masalah
Berdasarkan diskripsi tersebut diatas maka masalah penelitian itu dirumuskan sebagai berikut:
1) Apa definisi Tahu,Pengetahuan dan Ilmu pengetahuan ?
2) Apa saja syarat-syarat ilmu ?
1.3 Tujuan penulisan
1) Untuk menyelesaikan tugas makalah yang diberikan oleh dosen.
2) Agar kita mengetahui tentang tahu,pengetahuan dan ilmu pengetahuan.
3) Untuk mengetahui apa saja syarat-syarat ilmu itu.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Tahu, Pengetahuan, Dan Ilmu Pengetahuan
TAHU adalah gambaran atau kesan yang timbul dalam diri kita tentang sesuatu yang kita amati. Tahu dan pengetahuan tidak akan berakhir dibicarakan orang, kecuali jika dunia sudah kiamat. Alasanya yang sederhana tapi sangat penting yakni kalau manusia generasinya terus berlanjut. Sudah pasti tidak bisa disangkal, bahwa setiap generasi akan selalu hidup dengan pengetahuan. Berdasarkan hal demikian pulalah penulis ikut serta membicarakan apa itu tahu dan pengetahuan. Sampai saat ini telah banyak generasi yang telah berlalu, tentu sudah banyak pula ulama (para ilmuan) yang membicarakan seluk-beluk tentang pengatahuan. Analisanya tentu saja ada yang sama dan ada pula yang berbeda.
Setelah berbagai sumber yang penulis dapatkan tentang pengertian tahu dan pengetahuan , baik yang tertulis maupun yang terucap agak sulit untuk dipahami oleh banyak orang, maka penulis mencoba pula mengungkapkan pengertian tahu dan pengetahuan dari perspektif lain, sehingga memudahkan banyak orang untuk memahaminyan. Disamping itu juga terdapat landasan yang kuat untuk membangun kerangka berfikir.
Semua orang tahu, dan mungkin tidak ada yang tidak tahu, yaitu tahu tentang sesuatu. Ada orang yang banyak pengetahuannya ada pulayang sedikit. Apa saja yang ada dan bila bersentuhan dengan panca indera, maka kita akan “ tahu “. Mungkin yang kita ketahui adalah nyaringnya bunyi lonceng, kita tahu tentang panasnya api, kita tahu tentang manisnya madu, dan kita tahu kasarnya permukaan sebuah batu. Dari contoh-contoh yang telah diungkapkan itu maka pengertian tentang tahu adalah gambaran atau kesan yang timbul dalam diri kita tentang sesuatu yang kita amati. Kesan-kesan tersebut diolah dan diterima atau difahami serta disimpan dalam hati (otak ?).
Biasanya apa yang kita amati dengan panca indera gambaran atau kesan yang kita peroleh diberi nama , misalnya air, pohon, mangga, batu, bunyi, manis dan lain sebagainya. Pemberian nama ini suatu keharusan, wajib dilakukan. Semua yang ada diberi nama, supaya sebutan tehadap sesuatu dapat disepakati oleh banyak orang atau masyarakat. Bila dibicarakan atau dikomunikasikan secara opersional mengandung maksud yang sama.
Setiap orang banyak tahu tentang sesuatu yang ada di alam raya ini. Hal-hal yang berkaitan dengan objek yang diketahui tersebut dinamakan pengetahuan. Hal-hal yang berkaitan dengan objek tersebut antara lain bentuk, ukuran, warna, sifat-sifat dan juga kwalitas. Disamping itu juga erat kaitanya dengan situasi atau kondisi objek yang diketahui, termasuk juga peran, fungsi-fungsi dan lain-lain. Semuanya itu juga dibedakan dengan pemberian nama.
Selanjutnya, bagaimana kita bisa tahu tentang sesuatu ? Atau, bagaimana kita bisa berpengetahuan? Dalam dunia filsafat, para filusuf sering menggunakan istilah epistemologi dalam membahas bagaimana cara memperoleh pengetahuan atau bagaimana kita bisa tahu tentang sesuatu. Agar kita ber-pengetahuan tentu harus ada jalan atau metodologi untuk itu. Sekarang muncul pertanyaan bagaimana caranya seseorang bisa berpengetahuan ?
Pertanyaan tersebut dapat dijawab dengan Al-quran, إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
( sesungguhnya Allah maha mengabarkan dengan apa yang telah kamu kerjakan ). Firman Allah sangat jelas dan mudah dipahami. Pengetahuan yang kita peroleh atau tahunya kita tentang sesuatu, adalah merupakan khabar atau berita yang diberikan Allah kepada kita. Allah memberikan berita melalui usaha atau kerja yang kita lakukan. Kerja yang dimaksud disini, bisa berupa kerja yang sederhana dan dapat juga kerja yang sangat komplek. Untuk memudahkan pemaham terhadap usaha atau kerja tersebut tersebut penulis tampilkan contoh-contoh, di mana semua kita telah melakukanya.
Satu unit sederhana kerja yang kita lakukan misalnya adalah melihat. Kita pernah melihat sasuatu, misalnya melihat sepotong kayu, setelah melihat potongan kayu tersebut, barulah kita tahu tentang kayu tersebut. Mungkin yang kita ketahui tentang kayu tersebut adalah bentuknya, warnanya dan posisi letaknya. Kita tidak akan pernah tahu tentang kayu tersebut kalau belum atau tidak pernah melihatnya. Dalam hal ini yang sangat menonjol adalah penggunaan metode membaca dan pengamatan.
Pekerjaan kita yang sederhana lainya adalah mendengar. Setelah kita mendengarkan seekor induk ayam berkotek saat bertelur, barulah kita tahu bahwa begitulah suara induk ayam. Kita mendengar ayam jago berkokok di waktu subuh. Setelah mendengar induk ayam bekotek dan ayam jago berkokok, barulah kita tahu begitulah suara ayam. Begitu pula setelah kita mendengar, kita tahu ada perbedaan antara suara induk ayam dengan suara ayam jago. Tentu saja kalau belum mendengar, sudah pasti kita tidak tahu suara ayam jago.
Jadi dari dua contoh kerja tersebut, dapat diyakini dan tidak bisa pula dipungkiri, bahwa melalui kerja itulah ( melihat dan mendegar ) Allah memberi tahu.
Sekarang kita lanjutkan analisanya, bentuk kerja yang sederhana lainya adalah mencium, setelah mencium buah mangga ,barulah kita tahu bahwa buah mangga ada baunya dan begitulah baunya. Contoh kerja atau usaha yang lain berkaitan dengan perabaan dengan kulit dan mencicipi dengan lidah. Dengan kata lain melakukan kerja atau usaha yang menggunakan panca indera kita bisa tahu atau memperoleh pengetahuan. Kalau kita belum atau tidak ada usaha tersebut, sudah pasti kita tidak tahu.dan tidak berpengetahuan.
Para pembaca yang budiman, mungkin tidak ada di antara kita yang tidak tahu dengan asinnya garam, manisnya rasa gula. Kita tahu setelah kita mencicipi atau memakannya. Panasnya api dan dinginnya es, semuanya itu karena kita telah menyentuhnya dengan kulit, tentu kita menjadi tahu.
Banyak lagi cara atau usaha membuat kita menjadi tahu kita tentang sesuatu, dalam kontek yang lebih luas atau lebih komplek kita mengenal metode belajar, seperti eksperimen atau penelitian. Setelah melalui proses eksperimen kita tahu hukum-hukum kausalitas. Dengan ekperimen kita akan tahu tentang baik atau buruknya sesuatu bila telah berproses. Kita akan tahu baik atau buruknya sesuatu jika dihubungngkan dengan kebutuhan. Proses eksperimen adalah kerja yang sudah termasuk kerja yang sifatnya komplek, artinya telah melibatkan banyak indera dan peralatan. Proses itulah yang mendatangkan gambaran dalam diri kita secara lebih luas.
Adakalanya setelah selesai melaksanakan penelitian, dilakukanpula seminar hasil penelitian tersebut, sehingga memberikan masukan pula untuk melengkapi berita sekaitan dengan objek yang diteliti. Dengan seminar itu kita akan memperoleh gambaran yang lebih luas, kekurangan atau kelebihan serta permasalahan lain yang terkait dengannya.
Setelah kita mendapatkan bayangan, gambaran atau kesan dari sesuatu, maka sesuatu itu diberi nama atau istilah. Akumulasi dari apa yang kita ketahui itulah yang disebut dengan pengetahuan ( bahasa arab, ilmu). Begitulah Nabi kita Adam as. diberitahu dia tentang nama-nama semua apa yang ada dilangit dan di bumi . Itulah pengetahuan atau ilmu Nabi Adam as. Pada zaman sekarang pengetahuan itu telah diklasifikasi menurut objeknya. Misalnya ilmu tentang makhluk hidup diberi nama dengan Biologi dan sebagainya.
ILMU PENGETAHUAN
J. Haberer 1972 : Suatu hasil aktivitas manusia yang merupakan kumpulan teori, metode dan praktek dan menjadi pranata dalam masyarakat.
J.D. Bernal 1977 : Suatu pranata atau metode yang membentuk keyakinan mengenai alam semesta dan manusia.
E. Cantote 1977 : Suatu hasil aktivitas manusia yang mempunyai makna dan metode.1977 -1992
E.F. Schumacher : The perfections of science are purely practical-the objective practical the objective, i.e. independent of character and interests of the operator, measurable, recordable and repeatable.
Prof. Burr : Like the fields of physics, sciences are part of the organization of the universe and are influenced by the fast forces of space .
Cambridge-Dictionary 1995 : Ilmu Pengetahuan adalah kumpulan pengetahuan yang benar, mempunyai objek dan tujuan tertentu dengan sistim, metode untuk berkembang serta berlaku universal yang dapat diuji kebenarannya.
Menurut Sutrisno Hadi, ilmu pengetahuan adalah kumpulan dari pengalaman-pengalaman dan pengetahuan-pengetahuan dari sejumlah orang-orang yang dipadukan secara harmonis dalam suatu bangunan yang teratur.
Mohammad Hatta, mendifinisikan ilmu adalah pengetahuan yang teratur tentang pekerjaan hukum kausal dalam suatu golongan masalah yang sama tabiatnya, maupun menurut kdudukannya tampak dari luar, amupun menurut hubungannya dari dalam
Ralp Ross dan Ernest Van Den Haag, mengatakan ilmu adalah yang empiris, rasional, umum dan sistematik, dan keempatnya serentak sederhana
Karl Pearson, mengatakan ilmu adalah lukisan atau keterangan yang komprehensif dan konsisten tentang fakta pengalaman dengan istilah
Ashely Montagu, Guru Besar Antropolo di Rutgers University menyimpulkan bahwa ilmu adalah pengetahuan yang disususn dalam satu system yang berasal dari pengamatan, studi dan percobaan untuk menetukan hakikat prinsip tentang hal yang sedang dikaji.
Harsojo, Guru Besar antropolog di Universitas Pajajaran, menerangkan bahwa ilmu adalah:
Merupakan akumulasi pengetahuan yang disistematisasikan
Merupakan akumulasi pengetahuan yang disistematisasikan
Suatu pendekatan atau mmetode pendekatan terhadap seluruh dunia empirisyaitu dunia yang terikat oleh factor ruang dan waktu yang pada prinsipnya dapat diamati panca indera manusia
Suatu cara menganlisis yang mengizinkan kepada ahli-ahlinya untuk menyatakan suatu proposisi dalam bentuk: “jika,….maka…”
Suatu cara menganlisis yang mengizinkan kepada ahli-ahlinya untuk menyatakan suatu proposisi dalam bentuk: “jika,….maka…”
Afanasyef, seorang pemikir Marxist bangsa Rusia mendefinisikan ilmu adalah pengetahuan manusia tentang alam, masyarakat, dan pikiran. Ia mencerminkan alam dan konsep-konsep, kategori dan hukum-hukum, yang ketetapnnya dan kebenarannya diuji dengan pengalaman praktis.
Ilmu pengetahuan adalah seluruh usaha sadar untuk menyelidiki, menemukan, dan meningkatkan pemahaman manusia dari berbagai segi kenyataan dalam alam manusia. Segi-segi ini dibatasi agar dihasilkan rumusan-rumusan yang pasti. Ilmu memberikan kepastian dengan membatasi lingkup pandangannya, dan kepastian ilmu-ilmu diperoleh dari keterbatasannya.
Ilmu bukan sekadar pengetahuan (knowledge), tetapi merangkum sekumpulan pengetahuan berdasarkan teori-teori yang disepakati dan dapat secara sistematik diuji dengan seperangkat metode yang diakui dalam bidang ilmu tertentu. Dipandang dari sudut filsafat, ilmu terbentuk karena manusia berusaha berfikir lebih jauh mengenai pengetahuan yang dimilikinya. Ilmu pengetahuan adalah produk dari epistemologi.
Syarat-syarat ilmu
Berbeda dengan pengetahuan, ilmu merupakan pengetahuan khusus tentang apa penyebab sesuatu dan mengapa. Ada persyaratan ilmiah sesuatu dapat disebut sebagai ilmu. Sifat ilmiah sebagai persyaratan ilmu banyak terpengaruh paradigma ilmu-ilmu alam yang telah ada lebih dahulu.
- Objektif adalah Ilmu harus memiliki objek kajian yang terdiri dari satu golongan masalah yang sama sifat hakikatnya, tampak dari luar maupun bentuknya dari dalam. Objeknya dapat bersifat ada, atau mungkin ada karena masih harus diuji keberadaannya. Dalam mengkaji objek, yang dicari adalah kebenaran, yakni persesuaian antara tahu dengan objek, sehingga disebut kebenaran objektif; bukan subjektif berdasarkan subjek peneliti atau subjek penunjang penelitian.
- Metodis adalah upaya-upaya yang dilakukan untuk meminimalisasi kemungkinan terjadinya penyimpangan dalam mencari kebenaran. Konsekuensinya, harus ada cara tertentu untuk menjamin kepastian kebenaran. Metodis berasal dari bahasa Yunani “Metodos” yang berarti: cara, jalan. Secara umum metodis berarti metode tertentu yang digunakan dan umumnya merujuk pada metode ilmiah.
- Sistematis adalah dalam perjalanannya mencoba mengetahui dan menjelaskan suatu objek, ilmu harus terurai dan terumuskan dalam hubungan yang teratur dan logis sehingga membentuk suatu sistem yang berarti secara utuh, menyeluruh, terpadu , dan mampu menjelaskan rangkaian sebab akibat menyangkut objeknya. Pengetahuan yang tersusun secara sistematis dalam rangkaian sebab akibat merupakan syarat ilmu yang ketiga.
- Universal adalah kebenaran yang hendak dicapai adalah kebenaran universal yang bersifat umum (tidak bersifat tertentu). Contoh: semua segitiga bersudut 180º. Karenanya universal merupakan syarat ilmu yang keempat. Belakangan ilmu-ilmu sosial menyadari kadar ke-umum-an (universal) yang dikandungnya berbeda dengan ilmu-ilmu alam mengingat objeknya adalah tindakan manusia. Karena itu untuk mencapai tingkat universalitas dalam ilmu-ilmu sosial, harus tersedia konteks dan tertentu pula.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Tahu adalah gambaran atau kesan yang timbul dalam diri kita tentang sesuatu yang kita amati.
Ilmu pengetahuan adalah seluruh usaha sadar untuk menyelidiki, menemukan, dan meningkatkan pemahaman manusia dari berbagai segi kenyataan dalam alam manusia. Segi-segi ini dibatasi agar dihasilkan rumusan-rumusan yang pasti. Ilmu memberikan kepastian dengan membatasi lingkup pandangannya, dan kepastian ilmu-ilmu diperoleh dari keterbatasannya.
Ilmu bukan sekadar pengetahuan (knowledge), tetapi merangkum sekumpulan pengetahuan berdasarkan teori-teori yang disepakati dan dapat secara sistematik diuji dengan seperangkat metode yang diakui dalam bidang ilmu tertentu.
DAFTAR PUSTAKA
1. Prof. Dr. C.A. van Peursen(2008). Filsafat Sebagai Seni untuk Bertanya. Dikutip dari buku B. Arief Sidharta. Apakah Filsafat dan Filsafat Ilmu Itu? Bandung: Pustaka Sutra
2. Wahid, Ramli Abdul(1996). Ulumul Qu'ran. Jakarta: Grafindo
3. Vardiansyah, Dani. (2008). Filsafat Ilmu Komunikasi: Suatu Pengantar. jakarta: Indeks
4. Wikipedia Bahasa Indonesia. Ensiklopedi Bebas
5. http//.www.google.com
konsep Ontologi, epistemology dan aksiologi, ilmu keperawatan
Jumat, 09 Desember 2011
Posted by khaidar
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Seluruh ilmu hakikatnya berasal dari filsafat. Darinyalah seluruh ilmu berasal, darinya pula seluruh ilmu dan pengetahuan manusia dilahirkan. Sikap dasar selalu bertanya menjadi ciri filsafat, menurun pada berbagai cabang ilmu yang semula berinduk padanya. Karenanya, dalam semua ilmu terdapat kecenderungan dasar itu. Manakala ilmu mengalami masalah yang sulit dipecahkan, ia akan kembali pada filsafat dan memulainya dengan sikap dasar untuk bertanya. Dalam filsafat, manusia mempertanyakan apa saja dari berbagai sudut, secara totalitas menyeluruh, menyangkut hakikat inti, sebab dari segala sebab, mancari jauh ke akar, hingga ke dasar.
Dalam memahami ilmu fisafat maka sebaiknya memahami cabang-cabang dari ilmu filsafat itu sendiri yakni ontology, epistimologi dan akseologi. Ketiga cabang tersebut sangatlah perlu untuk difahami sebagai tolak ukur / landasan dalam berfikir.
B. Rumusan Masalah
1. Memahami bagaimana sebenarnya Filsafat Ilmu
2. Memahami Konsep Ontologi, Epistimologi dan Akseologi dalam Filsafat Ilmu
3. Memahami hubungan filsafat ilmu dengan ilmu keperawatan
C. Tujuan
1. Untuk memenuhi tugas MK Filsafat Ilmu dari Pak Drs. H. Muhammad Adhib MA
2. Sebagai refrensi pembelajaran MK Filsafat Ilmu
3. Mampu Menghubungkan antara Filsafat Ilmu dengan Ilmu Keperawatan
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Filsafat Ilmu
Para Cendikiawan berbeda - beda dalam memberikan pengertian seputar filsafat ilmu. berikut ini disajikan beberapa defnisi filsafat ilmu agar bisa dipahami secara utuh dan menyeluruh, pengertian tersebut antara lain :
1. Lewis White Beck mencoba mendefinisikan filsafat ilmu sebagai ilmu yang membahas dan mengevaluasi metode-metode pemikiran ilmiah serta mencoba menemukan dan pentingnya upaya ilmiah sebagai suatu keseluruhan
2. A. Cornelius Benjamin berpendapat bahwa filsafat ilmu adalah Cabang pengetahuan filsafat yang merupakan telaah sistematis mengenai ilmu, khususnya metode-metodenya, konsep-konsepnya dan praanggapan-praanggapan, serta letaknya dalam kerangka umum cabang-cabang pengetahuan intelektual.
3. Michael V. Berry “berpendapat bahwa filsafat ilmu adalah Penelaahan tentang logika interen dari teori-teori ilmiah dan hubungan-hubungan antara percobaan dan teori, yakni tentang metode ilmiah.
4. May Brodbeck mengatakan bahwa yang dimaksud dengan filsafat ilmu adalah Analisis yang netral secara etis dan filsafati, pelukisan dan penjelasan mengenai landasan – landasan ilmu.
Jadi antara filsafat dan filsafat ilmu ada keterkaitan yang tidak bisa dilepas. untuk memahami filsafat ilmu harus terlebih dahulu paham filsafat. peter caws berpendapat bahwa Filsafat melakukan dua macam hal : di satu pihak, ini membangun teori-teori tentang manusia dan alam semesta, dan menyajikannya sebagai landasan-landasan bagi keyakinan dan tindakan; di lain pihak, filsafat memeriksa secara kritis segala hal yang dapat disajikan sebagai suatu landasan bagi keyakinan atau tindakan, termasuk teori-teorinya sendiri, dengan harapan pada penghapusan ketakajegan dan kesalahan.
B. Ontologi
Kata ontologi berasal dari perkataan Yunani, yaitu : Ontos : being, dan Logos Logic Jadi ontology adalah the theory of being qua being ( teori tentang keberadaan sebagai keberadaan ). Atau bisa juga ilmu tentang yang ada. Secara istilah ontologi adalah ilmu yang membahas tentang hakikat yang ada yang merupakan realiti baik berbentuk jasmani atau kongkrit maupun rohani atau abstrak.
Istilah ontologi pertama kali diperkenalkan oleh rudolf Goclenius pada tahun 1936 M, untuk menamai hakekat yang ada bersifat metafisis. Dalam perkembangannya Christian Wolf (1679-1754) membagi metafisika menjadi dua, yaitu metafisika umum dan khusus.
Metafisika umum adalah istilah lain dari ontologi. Dengan demikian, metafiska atau otologi adalah cabang filsafat yang membahas tentang prinsip yang paling dasar atau paling dalam dari segala sesuatu yang ada. Sedangkan metafisika khusus masih terbagi menjadi Kosmologi, Psikologi dan Teologi.
Didalam pemahaman Ontologi terdapat beberapa pandangan-pandangan pokok pemikiran, diantaranya :
1. Monoisme, : Paham ini menganggap bahwa hakikat yang berasal dari kenyataan adalah satu saja, tidak mungkin dua. Haruslah satu hakikat saja sebagai sumber yang asal, baik berupa materi maupun rohani. Paham ini terbagi menjadi dua aliran :
a) Materialisme, Aliran ini menganggap bahwa sumber yang asal itu adalah materi, bukan rohani. Aliran ini sering disebut naturalisme. Menurutnya bahwa zat mati merupakan kenyataan dan satu-satunya fakta yang hanyalah materi, sedangkan jiwa atau ruh tidaklah merupakan suatu kenyataan yang berdiri sendiri
b) Idealisme, Sebagai lawan dari materialisme yang dinamakan spriritualismee. Dealisme berasal dari kata ”Ideal” yaitu suatu yang hadir dalam jiwa. Aliran ini beranggapan bahwa hakikat kenyataan yang beraneka ragam itu semua berasal dari ruh (sukma) atu sejenis dengannya, yaitu sesuatu yang tidak terbentuk dan menempati ruang. Materi atau zat ini hanyalah suatu jenis dari penjelamaan ruhani
2. Dualisme, Aliran ini berpendapat bahwa benda terdiri dari dua macam hakikat sebagai asal sumbernya, yaitu hakikat materi dan ruhani, benda dan ruh, jasad dan spirit. Materi bukan muncul dari benda, sama-sama hakikat, kedua macam hakikat tersebut masing-masing bebas dan berdiri sendiri, sama-sama azali dan abadi, hubungan keduanya menciptakan kehidupan di alam ini. Tokoh paham ini adalah Descater (1596-1650 SM) yang dianggap sebagai bapak Filosofi modern)
3. Pluralisme, paham ini beranggapan bahwa segenap macam bentuk merupakan kenyataan. Pluralisme tertolak dari keseluruhan dan mengakui bahwa segenap macam bentuk itu semuanya nyata, tokoh aliran ini pada masa Yunani kuno adalah Anaxagoras dan Empedcoles, yang menyatakan bahwa substansi yang ada itu terbentuk dan terdiri dari empat unsur, yaitu tanah, air, api dan udara
4. Nihilisme, berasal dari bahasa Yunani yang berati nothing atau tidak ada. Istilah Nihilisme dikenal oleh Ivan Turgeniev dalam novelnya Fadhers an Children yang ditulisnya pada tahun 1862 di Rusia. Doktrin tentang Nihilisme sebenarnya sudah ada sejak zaman Yunani kuno, yaitu pada pandangan Grogias (483-360 SM) yang memberikan tiga proporsi tentang realitas Pertama, tidak ada sesuatupun yang eksis. Realitas itu sebenarnya tidak ada
Kedua, bila sesuatu itu ada, ia tidak dapat diketahui, ini disebabkan oleh penginderaan itu tidak dapat dipercaya, penginderaan itu sumber ilusi
Ketiga, sekalipun realitas itu dapat kita ketahui, ia tidak akan dapat kita beritahukan kepada orang lain
5. Agnotitisme, Paham ini mengingkari kesanggupan manusia untuk mengetahui hakikat benda, baik hakikat materi maupun hakikat ruhani, kata agnosticisme barasal dari bahasa Grick. Ignotos yang berarti Unknow artinya not, Gno artinya Know. Timbulnya aliran ini dikarenakan belum dapatnya orang mengenal dan mampu menerangkan secara kongkret akan adanya kenyataan yang berdiri sendiri dan dapat dikenal.
Akal merupakan salah satu anugrah dari Allah SWT yang paling istimewa bagi manusia. Sifat akal adalah selalu ingin tahu terhadap segala sesuatu, termasuk dirinya sendiri. Pengetahuan yang dimiliki manusia bukan di bawa sejak lahir, tapi lewat sebuah proses berpikir dan mendapatkan pengalaman.
C. Epistimologi
Secara historis, istilah epistemologi digunakan pertama kali oleh J.F. Ferrier, untuk membedakan dua cabang filsafat, epistemologi dan ontologi. Sebagai sub sistem filsafat, epistemologi ternyata menyimpan “misteri” pemaknaan atau pengertian yang tidak mudah dipahami. Pengertian epistemologi ini cukup menjadi perhatian para ahli, tetapi mereka memiliki sudut pandang yang berbeda ketika mengungkapkannya, sehingga didapatkan pengertian yang berbeda-beda, buka saja pada redaksinya, melainkan juga pada substansi persoalannya.
Substansi persoalan menjadi titik sentral dalam upaya memahami pengertian suatu konsep, meskipun ciri-ciri yang melekat padanya juga tidak bisa diabaikan. Lazimnya, pembahasan konsep apa pun, selalu diawali dengan memperkenalkan pengertian (definisi) secara teknis, guna mengungkap substansi persoalan yang terkandung dalam konsep tersebut. Hal iini berfungsi mempermudah dan memperjelas pembahasan konsep selanjutnya. Misalnya, seseorang tidak akan mampu menjelaskan persoalan-persoalan belajar secara mendetail jika dia belum bisa memahami substansi belajar itu sendiri. Setelah memahami substansi belajar tersebut, dia baru bisa menjelaskan proses belajar, gaya belajar, teori belajar, prinsip-prinsip belajar, hambatan-hambatan belajar, cara mengetasi hambatan belajar dan sebagainya. Jadi, pemahaman terhadap substansi suatu konsep merupakan “jalan pembuka” bagi pembahasan-pembahsan selanjutnya yang sedang dibahas dan substansi konsep itu biasanya terkandung dalam definisi (pengertian).
Demikian pula, pengertian epistemologi diharapkan memberikan kepastian pemahaman terhadap substansinya, sehingga memperlancar pembahasan seluk-beluk yang terkait dengan epistemologi itu. Ada beberapa pengertian epistemologi yang diungkapkan para ahli yang dapat dijadikan pijakan untuk memahami apa sebenarnya epistemologi itu.
epistemologi juga disebut teori pengetahuan (theory of knowledge). Secara etimologi, istilah epistemologi berasal dari kata Yunani episteme berarti pengetahuan, dan logos berarti teori. Epistemologi dapat didefinisikan sebagai cabang filsafat yang mempelajari asal mula atau sumber, struktur, metode dan sahnya (validitasnya) pengetahuan. Dalam Epistemologi, pertanyaan pokoknya adalah “apa yang dapat saya ketahui”? Persoalan-persoalan dalam epistemologi adalah: 1.Bagaimanakah manusia dapat mengetahui sesuatu?; 2). Dari mana pengetahuan itu dapat diperoleh?; 3). Bagaimanakah validitas pengetahuan a priori (pengetahuan pra pengalaman) dengan pengetahuan a posteriori (pengetahuan purna pengalaman) (Tim Dosen Filsafat Ilmu UGM, 2003, hal.32).
Pengertian lain, menyatakan bahwa epistemologi merupakan pembahasan mengenai bagaimana kita mendapatkan pengetahuan: apakah sumber-sumber pengetahuan ? apakah hakikat, jangkauan dan ruang lingkup pengetahuan? Sampai tahap mana pengetahuan yang mungkin untuk ditangkap manuasia (William S.Sahakian dan Mabel Lewis Sahakian, 1965, dalam Jujun S.Suriasumantri, 2005).
Menurut Musa Asy’arie, epistemologi adalah cabang filsafat yang membicarakan mengenai hakikat ilmu, dan ilmu sebagai proses adalah usaha yang sistematik dan metodik untuk menemukan prinsip kebenaran yang terdapat pada suatu obyek kajian ilmu. Sedangkan, P.Hardono Hadi menyatakan, bahwa epistemologi adalah cabang filsafat yang mempelajari dan mencoba menentukan kodrat dan skope pengetahuan, pengandaian-pengendaian dan dasarnya, serta pertanggungjawaban atas pernyataan mengenai pengetahuan yang dimiliki. Sedangkan D.W Hamlyn mendefinisikan epistemologi sebagai cabang filsafat yang berurusan dengan hakikat dan lingkup pengetahuan, dasar dan pengendaian-pengendaiannya serta secara umum hal itu dapat diandalkannya sebagai penegasan bahwa orang memiliki pengetahuan.
Inti pemahaman dari kedua pengertian tersebut hampir sama. Sedangkan hal yang cukup membedakan adalah bahwa pengertian yang pertama menyinggung persoalan kodrat pengetahuan, sedangkan pengertian kedua tentang hakikat pengetahuan. Kodrat pengetahuan berbeda dengan hakikat pengetahuan. Kodrat berkaitan dengan sifat yang asli dari pengetahuan, sedang hakikat pengetahuan berkaitan dengan ciri-ciri pengetahuan, sehingga menghasilkan pengertian yang sebenarnya. Pembahasan hakikat pengetahuan ini akhirnya melahirkan dua aliran yang saling berlawanan, yaitu realisme dan idealisme.
Selanjutnya, pengertian epistemologi yang lebih jelas daripada kedua pengertian tersebut, diungkapkan oleh Dagobert D.Runes. Dia menyatakan, bahwa epistemologi adalah cabang filsafat yang membahas sumber, struktur, metode-metode dan validitas pengetahuan. Sementara itu, Azyumardi Azra menambahkan, bahwa epistemologi sebagai “ilmu yang membahas tentang keasliam, pengertian, struktur, metode dan validitas ilmu pengetahuan”. Kendati ada sedikit perbedaan dari kedua pengertian tersebut, tetapi kedua pengertian ini sedikit perbedaan dari kedua pengertian tersebut, tetapi kedua pengertian ini telah menyajikan pemaparan yang relatif lebih mudah dipahami.
Ruang Lingkup Epsitimologi
Bertolak dari pengertian-pengertian epistemologi tersebut, kiranya kita perlu memerinci aspek-aspek yang menjadi cakupannya atau ruang lingkupnya. Sebenarnya masing-masing definisi diatas telah memberi pemahaman tentang ruang lingkup epistemologi sekaligus, karena definisi-definisi itu tampaknya didasarkan pada rincian aspek-aspek yang tercakup dalam lingkup epistemologi daripada aspek-aspek lainnya, seperti proses maupun tujuan. Akan tetapi, ada baiknya dikemukakan pernyataan-pernyataan lain yang mencoba menguraikan ruang lingkup epistemologi, sebab pernyataan-pernyataan ini akan membantu pemahaman secara makin komprehensif dan utuh (holistik) mengenai ruang lingkup pemabahasan epistemologi.
M.Arifin merinci ruang lingkup epistemologi, meliputi hakekat, sumber dan validitas pengetahuan. Mudlor Achmad merinci menjadi enam aspek, yaitu hakikat, unsur, macam, tumpuan, batas, dan sasaran pengetahuan. Bahkan, A.M Saefuddin menyebutkan, bahwa epistemologi mencakup pertanyaan yang harus dijawab, apakah ilmu itu, dari mana asalnya, apa sumbernya, apa hakikatnya, bagaimana membangun ilmu yang tepat dan benar, apa kebenaran itu, mungkinkah kita mencapai ilmu yang benar, apa yang dapat kita ketahui, dan sampai dimanakah batasannya. Semua pertanyaan itu dapat diringkat menjadi dua masalah pokok; masalah sumber ilmu dan masalah benarnya ilmu.
Jadi meskipun epistemologi itu merupakan sub sistem filsafat, tetapi cakupannya luas sekali. Jika kita memaduakan rincian aspek-aspek epistemologi, sebagaimana diuraikan tersebut, maka teori pengetahuan itu bisa meliputi, hakikat, keaslian, sumber, struktur, metode, validias, unsur, macam, tumpuan, batas, sasaran, dasar, pengandaian, kodrat, pertanggungjawaban dan skope pengetahuan. Bahkan menurut, Sidi Gazalba, taklid kepada pengetahuan atas kewibaan orang yang memberikannya termasuk epistemologi, sekalipun ia sebenarnya merupakan doktrin tentang psikologi kepercayaan. Jelasnya, seluruh permasalahan yang berkaitan dengan pengetahuan adalah menjadi cakupan epistemologi.
D. Aksiologi
1. Pengertian Aksiologi
Aksiologi merupakan cabang filsafat ilmu yang mempertanyakan bagaimana manusia menggunakan ilmunya. Aksiologi adalah istilah yang berasal dari kata Yunani yaitu; axios yang berarti sesuai atau wajar. Sedangkan logos yang berarti ilmu. Aksiologi dipahami sebagai teori nilai. Jujun S.Suriasumantri mengartika aksiologi sebagai teori nilai yang berkaitan dengan kegunaan dari pengetahuan yang diperoleh. Menurut John Sinclair, dalam lingkup kajian filsafat nilai merujuk pada pemikiran atau suatu sistem seperti politik, sosial dan agama. sedangkan nilai itu sendiri adalah sesuatu yang berharga, yang diidamkan oleh setiap insan.
Aksiologi adalah ilmu yang membicarakan tentang tujuan ilmu pengetahuan itu sendiri. Jadi Aksiologi merupakan ilmu yang mempelajari hakikat dan manfaat yang sebenarnya dari pengetahuan, dan sebenarnya ilmu pengetahuan itu tidak ada yang sia-sia kalau kita bisa memanfaatkannya dan tentunya dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya dan di jalan yang baik pula. Karena akhir-akhir ini banyak sekali yang mempunyai ilmu pengetahuan yang lebih itu dimanfaatkan di jalan yang tidak benar.
Pembahasan aksiologi menyangkut masalah nilai kegunaan ilmu. Ilmu tidak bebas nilai. Artinya pada tahap-tahap tertentu kadang ilmu harus disesuaikan dengan nilai-nilai budaya dan moral suatu masyarakat; sehingga nilai kegunaan ilmu tersebut dapat dirasakan oleh masyarakat dalam usahanya meningkatkan kesejahteraan bersama, bukan sebaliknya malahan menimbulkan bencana.
2. Penilaian dalam Aksiologi
Dalam aksiologi, ada dua penilain yang umum digunakan, yaitu etika dan estetika. Etika adalah cabang filsafat yang membahas secara kritis dan sistematis masalah-masalah moral. Kajian etika lebih fokus pada prilaku, norma dan adat istiadat manusia. Etika merupakan salah-satu cabang filsafat tertua. Setidaknya ia telah menjadi pembahasan menarik sejak masa Sokrates dan para kaum shopis. Di situ dipersoalkan mengenai masalah kebaikan, keutamaan, keadilan dan sebagianya. Etika sendiri dalam buku Etika Dasar yang ditulis oleh Franz Magnis Suseno diartikan sebagai pemikiran kritis, sistematis dan mendasar tentang ajaran-ajaran dan pandangan-pandangan moral. Isi dari pandangan-pandangan moral ini sebagaimana telah dijelaskan di atas adalah norma-norma, adat, wejangan dan adat istiadat manusia. Berbeda dengan norma itu sendiri, etika tidak menghasilkan suatu kebaikan atau perintah dan larangan, melainkan sebuah pemikiran yang kritis dan mendasar. Tujuan dari etika adalah agar manusia mengetahi dan mampu mempertanggungjawabkan apa yang ia lakukan.
Didalam etika, nilai kebaikan dari tingkah laku manusia menjadi sentral persoalan. Maksudnya adalah tingkah laku yang penuh dengan tanggung jawab, baik tanggung jawab terhadap diri sendiri, masyarakat, alam maupun terhadap tuhan sebagai sang pencipta.
Dalam perkembangan sejarah etika ada empat teori etika sebagai sistem filsafat moral yaitu, hedonisme, eudemonisme, utiliterisme dan deontologi. Hedoisme adalah padangan moral yang menyamakan baik menurut pandangan moral dengan kesenangan. Eudemonisme menegaskan setiap kegiatan manusia mengejar tujuan. Dan adapun tujuan dari manusia itu sendiri adalah kebahagiaan.
Selanjutnya utilitarisme, yang berpendapat bahwa tujuan hukum adalah memajukan kepentingan para warga negara dan bukan memaksakan perintah-perintah ilahi atau melindungi apa yang disebut hak-hak kodrati. Selanjutnya deontologi, adala h pemikiran tentang moral yang diciptakan oleh Immanuel Kant. Menurut Kant, yang bisa disebut baik dalam arti sesungguhnya hanyalah kehendak baik. Semua hal lain disebut baik secara terbatas atau dengan syarat. Misalnya kekayaan manusia apabila digunakan dengan baik oleh kehendak manusia.
Sementara itu, cabang lain dari aksiologi, yakni estetika. Estetika merupakan bidang studi manusia yang mempersoalkan tentang nilai keindahan. Keindahan mengandung arti bahwa didalam diri segala sesuatu terdapat unsur-unsur yang tertata secara tertib dan harmonis dalam satu kesatuan hubungan yang utuh menyeluruh. Maksudnya adalah suatu objek yang indah bukan semata-mata bersifat selaras serta berpola baik melainkan harus juga mempunyai kepribadian.
Sebenarnya keindahan bukanlah merupakan suatu kualitas objek, melainkan sesuatu yang senantiasa bersangkutan dengan perasaan. Misalnya kita bengun pagi, matahari memancarkan sinarnya kita merasa sehat dan secara umum kita merasaakan kenikmatan. Meskipun sesungguhnya pagi itu sendiri tidak indah tetapi kita mengalaminya dengan perasaan nikmat. Dalam hal ini orang cenderung mengalihkan perasaan tadi menjadi sifat objek itu, artinya memandang keindahan sebagai sifat objek yang kita serap. Padahal sebenarnya tetap merupakan perasaan.
E. Hubungan Filsafat Ilmu dengan Ilmu Keperawatan
Ilmu keperawatan merupakan ilmu yang tidak akan ada habisnya dalam perjalanan kehidupan, banyaknya berbagai problema dalam masalah kesehatan semakin memaksa ilmu keperawtan untuk terus selalu update dalam setiap perputaran waktu. Sebagai ilmu pengetahun, keperawatan juga lahir dari Filsafat Ilmu.
Sebagai induk dari segala ilmu, Filsafat tentunya selalu berkaitan dengan semua ilmu, baik kitannya yang bersifat umum atau khusus. Hubungan antara filsafat ilmu dengan ilmu keperawatan sangat terlihat jelas saat kita melihat bagaimana perawat itu dalam bertindak haruslah segara melakukan tindakan yang tepat, dan itu tidak akan bisa diwujudkan oleh seorang perawat bila seandainya perawat tidak faham dan tidak mengerti apa sebenarnya Filsafat Ilmu
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Melihat pada aspek pemikiran yang cepat dan tepat, filsafat ilmu sangatlah perlu dikuasai oleh seorang perawat. Karena sangat tidak menutup kemungkinan seorang perawat dalam menjalankan tugasnya menghadapi persolan-persoalan bagai dilema yang sangat sulit di pecahkan. Oleh karena itu perawat haruslah mampu menguasai filsafat ilmu itu sendiri untuk menunjang dalam kecepatan dan ketepatan berfikir dan bertindak.
Filsafat ilmu memiliki cabng-cabang tersendiri yakni :
Metafisika umum adalah istilah lain dari ontologi. Dengan demikian, metafiska atau otologi adalah cabang filsafat yang membahas tentang prinsip yang paling dasar atau paling dalam dari segala sesuatu yang ada. Sedangkan metafisika khusus masih terbagi menjadi Kosmologi, Psikologi dan Teologi.
Epistemologi dapat didefinisikan sebagai cabang filsafat yang mempelajari asal mula atau sumber, struktur, metode dan sahnya (validitasnya) pengetahuan. Pengertian lain, menyatakan bahwa epistemologi merupakan pembahasan mengenai bagaimana kita mendapatkan pengetahuan: apakah sumber-sumber pengetahuan ? apakah hakikat, jangkauan dan ruang lingkup pengetahuan? Sampai tahap mana pengetahuan yang mungkin untuk ditangkap manuasia (William S.Sahakian dan Mabel Lewis Sahakian, 1965, dalam Jujun S.Suriasumantri, 2005).
Aksiologi adalah ilmu yang membicarakan tentang tujuan ilmu pengetahuan itu sendiri. Jadi Aksiologi merupakan ilmu yang mempelajari hakikat dan manfaat yang sebenarnya dari pengetahuan.
B. Saran
Sebagai seorang perawat kita hasulah memiliki dan memhami serta menerpkan prinsip daripada Filsafat Ilmu, dengan menerapakannya maka kita mampu menyelesaikan masalah dengan pemikiran-pemikiran yang tepat, baik dan cermat, inilah yang disebut The Smart Beautiful Of Mind.
DAFTAR PUSTAKA
Ahmad Tafsir Filsafat Umum, (Bandung, 1990).
Al-Ghazali, Setitik Cahaya Dalam Kegelapan,
Jujun S. Suriasuantrim Filsafah Ilmu, Sebuah Pengembangan Populasi. Pustaka Sinar Harapan,
Jakarta 1998
Tim Dosen Filsafah Ilmu, Filsafat Ilmu (Yogyakarta, 1996)
Jujun S. Suriasuantrim Filsafah Ilmu, Sebuah Pengembangan Populasi. Pustaka Sinar Harapan, Jakarta 1998
Azra Azyumardi, Integrasi Keilmuan, (Jakarta: PPJM dan UIN Jakarta Press)
Bidin Masri Elmasyar, MA, dkk, Integrasi Ilmu Agama dan Ilmu Hukum, (Jakarta: UIN Jakarta Press)
Salam Burhanuddin, Logika Materil, Filsapat Ilmu Pengetahuan, (Jakarta: Reneka Cipta, 1997), cet. Ke-1
Sumatriasumatri Jujun S., Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer, (Jakarta: Sinar Harapan, 1988)
Keraf. S. & Mikhael Dua. (2001). Ilmu Pengetahuan Sebuah Tinjauan Filosofis. Jakarta: Kanisius.
Mc. Carthy. T. (2006). Teori Kritis Jürgen Habermas (Alih Bahasa oleh Nurhadi).
Noeng Muhadjir, 2001, Filsafat Ilmu, Penerbit Rake Sarasin, Yogjakarta,.
Noerhadi. T. H. (1998). Filsafat Ilmu Pengetahuan. (Diktat Kuliah). Pascasarjana Universitas Indonesia.
Qadir. C. A. (1995). Ilmu Pengetahuan dan Metodenya. Jakarta: Yayasan Obor.
Sumaryono. E. (1993). Hermeneutik: Sebuah Metode Filsafat. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.
Sudarsono. 2008. Ilmu Filsafat Suatu Pengantar. Jakarta: PT. Rineka Cipta.
Wiramihardja, Sutardjo. 2007. Pengantar Filsafat. Bandung: PT Refika
Aditama.
Zar, Sirajuddin, 2004 Filsafat Islam, Jakarta : Raja Grafindo
http://staf_unud.com/artikel/filsafat_ilmu.htm.
diakses pada 3 Desember 2011
http://filsafatindonesia1001.wordpress.com/2009/07/22/perbedaan-antara-ilmu-dan-
pengetahuan/ Sabtu, 03 Desember 2011
http://id.wikipedia.org/wiki/Ontologi, Sabtu, 3 Desember 2011